RETORIKA AJAKAN
Teori retorika ajakan diciptakan
oleh Sonja K Foss Dan Cindy L. Griffin dalam karya tulis mereka “Beyond
Persuasion” yang menawarkan sebuah perspektif berdasarkan nilai nilai feminis
terhadap kesetaraan, nilai tetap dan determinasi diri.
Retorika Ajakan menggunakan ide
dari sebuah UNDANGAN, kita berusaha untuk mengajak orang lain untuk mengenali
perspektif kita tetapi tetap memberikan kebebasan kepada audiens untuk mengikuti
atau tidak sehingga terjadi klarifikasi ide-ide dari semua partisipan
Perubahan yang dihasilkan sebagai
bagian dari interaksi adalah hasil dari pengetahuan bukan pengaruh karena
perubahan itu pilihan sendiri. Daripada membuat orang lain menyetujui bahwa
perspektif anda “benar,” perspektif yang beda dianggapsebagai sebuah dasar
untuk pemahaman yang lebih baik lagi terhadap suatu isu.
Retorika ajakan menjalankan
asumsi bahwa ketika kita membuka diri kita sendiri terhadap ide-ide dengan
bebas yang berbeda dari diri kita, kita memiliki banyak kesempatan untuk
memahami.
Sonja Foss dan Karen Foss dalam
“Inviting Transformation” mode retorika berbeda dalam budaya kita
.
- Conquest Rhetoric
Sebuah
interaksi yang kemenangan merupakan tujuannya; Anda ingin membangun “ide, hak
atu argument sebagai yang terbaik diantara kedudukan yang sedang bersaing”
Contoh:
Kasus antara
OC Kaligis sebagai pengacara dari Nasarudin dan Michael Manufandu Dubes RI
untuk Kolombia pada Jakarta Lawyer’s Club di TV ONE melalui teleconference
mengenai tas tangan Nasrudin yang di sita oleh pihak kedutaan Besar Indonesia.
Pada masalah ini OC Kaligis dengan pengalamannya sebagai pengacara dengan
pengalaman puluhan tahun mampu meyakinkan masyarakat dan mematahkan argumen
dari Dubes Manufandu. Pada akhirnya seakan-akan “Pengacara menaklukan Dubes” di
depan siaran langsung yang disaksikan pemirsa televise di rumah secarah
langsung.
- Conversion Rhetoric
Dirancang
untuk mengubah perspektif dan perilaku orang lain berdasarkan pada superioritas
dan kebenaran dari sebuah kedudukan.
Contoh:
Iklan rokok
Sampoerna “A Mild” adalah salah satu pelopor rokok putih (mild) di Indonesia
dan menjadi trend setter di kalangan perokok karena dianggap kadar perusak
jenis rokok ini jauh lebih sedikit dengan rokok jenis lain. Setelah produk
Sampoerna mampu merebut simpati segmen perokok pemula,wanita dan mereka yang
ingin mengurangi kecanduan merokok jenis lainnya, produsen rokok lainnya mulai
mengikuti. Perkembangan ini dilihat oleh tim kreatif iklan Sampoerna “A Mild” membuat
tag line “Others can only follow” yang juga menjadi trend setter dunia
periklanan Indonesia.
- Benevolent Rhetoric
Dibuat untuk
membantu orang lain memperbaiki hidupnya dengan penuh kebajikan yaitu informasi
diberikan kepada orang lain dengan maksud menguntungkan mereka.
Contoh:
Bagaimana
walikota Solo Joko Widodo berhasil dengan cara persuasif menghimbau pedagang
pasar tradisional untuk dipindahkan ke pasar yang lebih representatif tanpa ada
demonstrasi dan penentangan berarti sehingga pada pemilihan periode kedua
terpilih kembali dengan lebih dari 90 persen suara rakyat.
- Advisory Rhetoric
Yaitu
informasi yang diminta sudah tersedia bagi seseorang dengan melalui nasehat dan
pendidikan.
Contoh:
Nasehat seorang
guru SD seringkali lebih di dengar dan dilaksanakan oleh anak dari pada orang
tua kandungnya sendiri melalui berbagai cara antara lain permainan, nyanyian
maupun pembelajaran di kelas.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar